Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

5.04.2009

Dunia politik penuh artis dan intrik

Ada-ada aja politik sekarang ini. Pada awalnya ,artis cuma di jadikan alat kekuatan oleh organisasi parti pemerintahan untuk mendapatkan suara terbanyak agar bisa mendapatkan kursi jabatan di pemerintahan. Namun sekarang ini udah mulai terbalik keadaanya,banyak artis-artis kita yang mulai kepincut dengan panggung politik,dengan bayangan uang melimpah dan jabatan yang bisa menggiurkan siapa saja. Walapun sebenernya mereka belum pantas untuk mendapatkan kursi jabatan di kancah politik
Semua itu ga perlu di pungkiri kalo dunia politik itu kotor,penuh trik dan intrik di mana yang berkuasa bisa memiliki segalanya dengan menghalalkan segala cara. Uang itu kunci semuanya di politik sekarang ini dengan bermodalkan uang yang melimpah,kursi panas sudah ada di depan mata kita.
Satu hal sekarang ini yang perlu di pertanyakan. Apakah artis kita sudah pantas untuk maju ke panggung politik. Dengan bermodalkan ketenaran mereka,sedangkan mereka terkena gosip miring aja dah menggema bermacam-macam suara di keluarkan. Hampir banyak partai politik sekarang ini memakai artis,kita tidak tahu tujuan dari semua itu. Apakah sebuah trik,politik..ga ada yang tahu. Kita dapat contohkaan banyak artis yang maju ke kancah politik,ada yang sukes ada yang gagal juga.
Banyak artis mencoba keberuntungan,misalnya..
1.Gusti randa yang mencoba peruntungan menjadi walikota padang,namun gagal
2.Primus yustisio yang mencalonkan diri menjadi calon bupati subang
3.Dicky candra yang mencalonkan juga menjadi wakil bupati garut
Itu baru segelintir artis,masih banyak lagi yang lainya. Bahkan dah melenggang manis di kursi pemerindahan DPR RI. Tapi satu hal yang perlu di pertanyakan,apakah mereka pantes,menjalankan kursi roda pemerintahan ini?. Dengan segala macam permasalahan yang sedang di hadapi di pemerintahan kita ini.
Semoga ajah pemerintahan kita ini aman sejahtera,dengan berbagai macam orang,suku,bangsa,agama dll,dan tidak terpecah belah kesatuan NKRI ini.

Read more...

2.02.2009

ada juga orang jawa yang mau nyalon....


KUPANG, SENIN - Pamor politik Sri Sultan Hamengku Buwono X akan naik, jika Partai Golongan Karya (Golkar) menzaliminya dengan memberikan teguran atau sanksi. Dengan kata lain, Sultan akan semakin moncer (bersinar). "Jika Sultan sampai diperlakukan demikian, maka simpati publik akan muncul, seperti ketika Presiden Megawati Soekarnoputri memperlakukan Susilo Bambang Yudhoyono empat tahun silam," kata pengamat politik, Drs Mikael Tommy Susu di Kupang, Senin. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang itu menambahkan, posisi Sultan saat ini sangat dibutuhkan oleh partai-partai politik besar, karena memiliki nilai tawar politik yang sangat tinggi . Hal ini terlihat dalam kehadirannya pada Rakernas PDI Perjuangan di Solo akhir Januari lalu serta pernyataan sejumlah fungsionaris Partai Golkar yang mengklaim Sultan sebagai kader partai berlambang Pohon Beringin itu. "SBY mendapat simpati publik yang luar biasa ketika Megawati Soekarnoputri sebagai presiden tidak mengundang SBY sebagai menteri kabinet mengikuti sejumlah rapat di istana presiden," katanya. Ternyata, SBY mendapat simpati yang luar biasa dari rakyat sampai akhirnya terpilih menjadi Presiden RI ke-6 periode 2004-2009, kata Tommy mencontohkan. Ia menambahkan, pernyataan fungsionaris DPP Partai Golkar, Agung Laksono bahwa Sri Sultan belum dipaketkan secara permanen dengan Megawati Soekarnoputri sebagai calon wakil presiden dan calon presiden dari PDIP bisa menjernihkan pemahaman publik, bahkan bisa menguntungkan Partai Golkar. Sebelumnya, ketika fungsionaris DPP Partai Golkar, Muladi, mengatakan, Sri Sultan bisa terkena sanksi partai karena melakukan manuver politik dengan sejumlah parpol di luar Golkar untuk mencari posisi sebagai calon wakil presiden. Namun, pernyataan Muladi tersebut mendapat reaksi negatif dari sejumlah kalangan karena membandingkan dengan Jusuf Kalla (saat ini Ketua Umum DPP Golkar) menjadi Wakil Presiden tidak melalui Partai Golkar, tetapi melalui Partai Demokrat, tetapi tidak diberi sanksi oleh partai. Sri Sultan pun, lanjut dia, secara diplomatis menyatakan, tidak pernah membawa-bawa nama dan atribut Partai Golkar dalam membangun komunukasi politik dengan sejumlah pihak.
Tommy mengatakan, hingga pekan pertama bulan Februari ini, fokus perhatian publik masih terarah pada dua kubu politik yang mulai secara terbuka melakukan perang urat saraf, yakni kubu PDIP yang dipimpin Megawati Soekarnoputri dan kubu Partai Demokrat yang menjagokan SBY pada Pemilu Presiden Juni mendatang. Menurut dia, akan sangat bagus dan elegan jika ada kekuatan tengah (poros tengah) yang muncul dengan figur atau tokoh baru sebagai calon alternatif.
"Kita harapkan, kekuatan poros tengah ini berasal dari kaum muda sebagai kelompok pendobrak kemapanan politik yang kini secara terbuka diwakili oleh SBY dan Megawati, selain beberapa tokoh lain seperti Sri Sultan, Jusuf Kalla dan Surya Paloh," katanya. Kelompok pendobrak ini, lanjut dia, bisa mengelola konflik di antara kekuatan mapan untuk meraih simpati, apalagi kalau mengembuskan program yang lebih nyata tetapi lolos dari perhatian kekuatan yang pernah dan sedang berkuasa
.
posting.Kompas

Read more...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP